Mengenang Samsir: Jangan Menghitung Perubahan Berdasarkan Usia Kita!

"Panggil aku Samsir", begitu dia selalu mengingatkan kami untuk memanggil namanya langsung tanpa embel-embel pak, oom, dan semacamnya, meskipun usia kami rata-rata 50 tahun di bawah dia. "Jika kita sepakat dengan egalitarianisme, mulailah dari hal yang kecil. Mulailah dengan memanggil nama secara setara."
"Jangan membaca Marxisme dengan tahayul, tapi pakai logika. Logika ada di depan, bukan di belakang. Jika tidak, akan sesat," begitu dia kerap mengingatkan kami. Bukan hanya dalam soal membaca teori dan kenyataan, tetapi dalam banyak hal.

Setiap kali dia berbicara Indonesia, dia kerap mengajak kita mengenali fakta sejarah. Sejarah tidak pernah bengkok. Sejarah tidak pernah berbohong. Mereka yang berkuasalah yang sering memelintir dan membengkok-bengkokkan sejarah.

Jika kita benar-benar menghendaki perubahan untuk melawan penghisapan manusia atas manusia lainnya, bacalah sajarah. Bukan sejarah orang lain--meski itu penting--tetapi sejarah kita sendiri. "Tahukah kau, kapan nama Indonesia lahir? Itulah pertanyaan pembuka setiap kali dia mengawali diskusi sejarah dengan anak-anak muda.

Berbicara perubahan, dia selalu mengingatkan, bahwa perubahan hanya bisa dicapai dengan kerja, bukan dengan menggembar-gemborkan ideologi ini dan itu. Bukan bendera-benderaan dan main atas nama. Menggembar-gemborkan ideologi adalah masa lalu yang sudah terbukti gagal total! Karena itu, jangan mengulang kesalahan lama!

Marxisme itu bukan jimat, tapi alat membaca kenyataan. Membaca dan paham saja tidak cukup, karena yang terpenting adalah apa yang kita baca dan pahami itu menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai kehdupan yang baik.

Seperti apa kehidupan yang baik itu? Dia selalu menjawab: kehidupan tanpa penghisapan manusia atas manusia lainnya. Dan jika itu diletakkan dalam konteks Indonesia, kita bisa memulainya dengan menjalankan konstitusi (UUD 45) secara lurus dan benar.

Menurutnya, sejak konstitusi Indonesia dirumuskan, tak ada satu pun penyelenggara negara (baca: pemerintah) Indonesia yang menjalankannya secara lurus dan benar. Semua itu terjadi, kata dia, berawal dari Revolusi Indonesia 1945 yang sesungguhnya adalah revolusi yang dikompromikan.

Itulah sebagian kecil catatan kami tentang Samsir Mohamad, bekas anggota konstituante, bekas sekertaris umum Barisan Tani Indonesia, bekas tahanan politik 1965 selama 14 tahun, seorang yang selalu tegas mengingatkan kami "jangan menghitung perubahan berdasarkan usia kita, usia manusia!"

Samsir kini sudah tiada. Dia sudah benar-benar bebas. Sudah Merdeka!
Comments (6)Add Comment
0
lpmsby
December 20, 2009
125.164.81.13
Votes: +0
...

Merdeka untuk kaum progresif

0
riza
October 28, 2009
125.161.234.159
Votes: +0
...

saya ada rekaman suara (saya, teman saya, dan samsir), semacam obrolan dirumah samsir. isinya mengenai sejarah indonesia... apakah ada yang perlu...

0
yani
July 21, 2009
125.163.14.70
Votes: +0
...

Ucu, ini ada artikel mengenai Samsir..dan perjalanan hidupnya.
http://mediabersama.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1806:samsir-mohamad-i-love-people-and-my-country&catid=937:sosok&Itemid=155

0
ucu
July 18, 2009
222.124.204.178
Votes: +0
...

ada biografi samsir??? kalo da boleh minta..

62
admin
July 13, 2009
120.163.221.128
Votes: +0
...

Kirimkan naskah cerpen, puisi dan artikel bung ke alamat email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Terimakasih.

0
Andre Bara
July 13, 2009
222.124.255.106
Votes: +0
...

gimana caranya ngirim tulisan (puisi, cerpen & artikel) ke rumah kiri?

Write comment
 
  smaller | bigger
 

busy

Login Anggota

Komentar Baru

Belajar Ekonomi Marx...
faham ekonomi marx,jls kontra dgn ekonomi adam smi...
Meluruskan Revolusi ...
benar, membaca itu perintah kebudayaan - karena pe...
Meluruskan Revolusi ...
Aliran Trotskis dan Indonesia Melebihi anti-komuni...
Republik Indonesia S...
negara edann
Wawancara dengan Akt...
Saya pernah meliput pemilu di Iran tahun 2005, ket...

Newsletter


Name:

Email: