Mengenang Samsir: Jangan Menghitung Perubahan Berdasarkan Usia Kita!
Ditulis oleh Rumah Kiri Sabtu, 27 Juni 2009 02:54

Setiap kali dia berbicara Indonesia, dia kerap mengajak kita mengenali fakta sejarah. Sejarah tidak pernah bengkok. Sejarah tidak pernah berbohong. Mereka yang berkuasalah yang sering memelintir dan membengkok-bengkokkan sejarah.
Jika kita benar-benar menghendaki perubahan untuk melawan penghisapan manusia atas manusia lainnya, bacalah sajarah. Bukan sejarah orang lain--meski itu penting--tetapi sejarah kita sendiri. "Tahukah kau, kapan nama Indonesia lahir? Itulah pertanyaan pembuka setiap kali dia mengawali diskusi sejarah dengan anak-anak muda.
Berbicara perubahan, dia selalu mengingatkan, bahwa perubahan hanya bisa dicapai dengan kerja, bukan dengan menggembar-gemborkan ideologi ini dan itu. Bukan bendera-benderaan dan main atas nama. Menggembar-gemborkan ideologi adalah masa lalu yang sudah terbukti gagal total! Karena itu, jangan mengulang kesalahan lama!
Marxisme itu bukan jimat, tapi alat membaca kenyataan. Membaca dan paham saja tidak cukup, karena yang terpenting adalah apa yang kita baca dan pahami itu menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai kehdupan yang baik.
Seperti apa kehidupan yang baik itu? Dia selalu menjawab: kehidupan tanpa penghisapan manusia atas manusia lainnya. Dan jika itu diletakkan dalam konteks Indonesia, kita bisa memulainya dengan menjalankan konstitusi (UUD 45) secara lurus dan benar.
Menurutnya, sejak konstitusi Indonesia dirumuskan, tak ada satu pun penyelenggara negara (baca: pemerintah) Indonesia yang menjalankannya secara lurus dan benar. Semua itu terjadi, kata dia, berawal dari Revolusi Indonesia 1945 yang sesungguhnya adalah revolusi yang dikompromikan.
Itulah sebagian kecil catatan kami tentang Samsir Mohamad, bekas anggota konstituante, bekas sekertaris umum Barisan Tani Indonesia, bekas tahanan politik 1965 selama 14 tahun, seorang yang selalu tegas mengingatkan kami "jangan menghitung perubahan berdasarkan usia kita, usia manusia!"
Samsir kini sudah tiada. Dia sudah benar-benar bebas. Sudah Merdeka!
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 2300
Comments (6)

