Sosok
Ditulis oleh Larissa MacFarquhar
Rabu, 29 April 2009 00:00
Di luar Bloor Cinema di Toronto tertera pengumuman “The Last Mistress” pada pukul 04.00, “Naomi Klein–The Shock Doctrine”–pada pukul 07.00 dan “Little Shop of Horros” pukul 09.30. Bisnis di toko sebelah tampak hangat, sehangat malam itu. Berbekal tiket ke acara Naomi Klein, orang-orang mengantri sampai ke ujung jalan. Di luar pintu masuk, seorang pria paruh baya dan perempuan berumur sibuk menjual “Socialist Action” seharga 1 dollar (Mereka menjual edisi bulan September yang memuat artikel mengenai kontradiksi kapitalisme, perang kelas di Bolivia dan komentar dari Mumia Abu Jamal).
Ditulis oleh Jesus S. Anam
Kamis, 17 April 2008 00:00

Ditulis oleh Farida Angelina
Rabu, 30 Mei 2007 00:00

Ditulis oleh Farida Angelina
Rabu, 18 April 2007 00:00

Ditulis oleh Suar Suroso
Senin, 06 November 2006 00:00
Sejak muda Bung Karno sudah jadi pengagum Marxisme. Dalam usia dua puluh lima tahun, dengan tujuan mempersatukan kekuatan bangsa melawan kolonialisme, Bung Karno sudah mengemukakan arti penting Marxisme dan menilai pentingnya kekuatan kaum Marxis di Indonesia. Dalam karyanya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, yang diterbitkan tahun 1926, Bung Karno menulis: Partai Boedi Oetomo, ‘marhum’ Nationaal Indische Partij yang kini masih ‘hidup’, Partai Sarekat Islam, Perserikatan Minahasa, Partai Komunis Indonesia, dan masih banyak partai-partai lain ... itu masing-masing mempunyai rokh Nasionalisme, rokh Islamisme, atau rokh Marxisme adanya. Dapatkah roch-roch ini dalam politik jajahan bekerja bersama-sama menjadi satu Rokh yang Besar, Roch Persatuan? Rokh Persatuan yang akan membawa kita ke-lapang ke-Besaran?[1]
Halaman 1 dari 2
